Cari Blog Ini

Senin, 07 Februari 2011

Sarana Penyelamatan Khasanah Budaya Melayu

Berbicara mengenai Riau, baik itu Riau Kepulauan maupun Riau Daratan dan pantai timur Sumatera, maka pembicaraan kita akan menyangkut pada suku bangsa Melayu dan kebudayaannya. Itulah fakta yang sehari-hari dapat didengar. Orang Riau dan juga sukubangsa Melayu yang mendiami belahan barat Nusantara bangga akan budayanya, terutama budaya yang intangible (budaya tak benda), seperti tari-tarian dan seni berpantun. Kemudian, bagaimana dengan budaya yang tangible (budaya materi) ?

Tanggal 7 Maret yang lalu, pada Harian KOMPAS terdapat berita yang berjudul “Mengkhawatirkan, Kondisi Situs Budaya Melayu Terbesar Abad Ke-19”. Berita ini kemudian disusul keesokan harinya dengan dua artikel yang isinya tentang perubahan-perubahan nilai/moral pada masyarakatnya, dan kondisi naskah-naskah kuna yang tersimpan di Masjid Raya Penyengat. Memang tidak dapat disangkal kebenaran berita itu. Itulah kenyataan pahit yang harus diderita oleh benda-benda tinggalan budaya masa lampau di manapun benda itu berada, serta kondisi moral masyarakatnya. Berita itu tentang benda cagar budaya mengingatkan pernyataan tokoh masyarakat Riau dalam kaitannya dengan Otonomi Daerah menjadi kenyataan, “tidak perduli dengan kebesaran sejarah masa lampau, yang penting bagaimana mendapatkan dua per tiga pendapatan hasil bumi/tambang Riau dari Pemerintah Pusat.”

Karya Sastra
Orang Melayu boleh berbangga karena pada masa lampau banyak anggota masyarakatnya yang mahir dalam menulis naskah yang terkenal dan penyebarannya cukup luas di bumi nusantara ini. Sebut saja, misalnya Raja Ali Haji yang hidup pada sekitar tahun 1809-1873. Ia dikenal sebagai pujangga terbaik dari Penyengat, bersama ayahnya menulis kompilasi Tuhfat al-Nafis, paparan sejarah Melayu dan Bugis yang saling mempengaruhi selama hampir dua abad. Karya sastra sejarah ini dapat dikatakan luar biasa karena mencantumkan sumber baik tertulis maupun lisan, dan memperhatikan susunan materi secara runut dan sistematis. Tentu saja menggunakan bahasa Melayu yang baik dan benar.

Karya tulis lain yang ditulis pada kala itu, misalnya pedoman administrasi kerajaan, puisi penuntun moral, tata-bahasa Melayu, dan semacam ensiklopædi bahasa dan budaya Melayu. Pedoman administrasi kerajaan dapat dikatakan merupakan “pemodernan” administrasi kerajaan, sebab pada kala itu buku petunjuk semacam itu dapat dikatakan belum pernah ada. Dalam hal pengetahuan budaya, masyarakat dapat membaca karyanya pada ensiklopædi budaya Melayu berjudul Kitab Pengetahuan Bahasa yang ditulis pada tahun 1858. Dari karya-karyanya, dapat diketahui tingkat kesadaran bahwa hancurnya suatu kerajaan/negara dapat disebabkan oleh pengabaian bahasa dan adat yang telah mapan, serta ketertiban administrasi.
Ajaran moral, seperti yang dituliskan dalam puisi Gurindam Duabelas merupakan suatu ajaran/tuntunan moral setiap insani. Ajaran-ajarannya tentu saja mengikuti ajaran agama Islam yang kala itu sedang giat-giatnya dipelajari oleh kalangan masyarakat dan elite kerajaan. Ia percaya bahwa hal itu dapat bermanfaat bagi raja untuk menyediakan bahan dan keadaan batin rakyatnya agar memperhatikan seluruh ajaran Islam dan mempersiapkan diri untuk dunia akhirat.

Karya-karya sastra banyak dihasilkan di kerajaan Riau-Lingga (Penyengat). Sebetulnya, ide penulisan karya sastra tersebut kebanyakan diambil dari ajaran Islam. Para pujangga mempelajari budaya dan agama untuk karya sastranya. Dari karya-karya yang dihasilkan itu, tentu saja mengakibatkan timbulnya modernisasi dunia Islam. Pada sekitar tahun 1880 kelompok pujangga Penyengat membentuk organisasi Rusydiyah. Melalui organisasi ini seluruh karya para pujangga dicetak dan diterbitkan oleh percetakan sendiri di Pulau Lingga, kemudian diedarkan ke seluruh masyarakat Melayu di Nusantara. Tidak heran jika hampir diseluruh nusantara banyak ditemukan naskah budaya Melayu.

Penelitian dan Pelestarian
Riau, baik Riau daratan maupun Riau kepulauan, mempunyai latar belakang sejarah yang cukup panjang. Berbagai tinggalan budaya masa lampau banyak ditemukan di wilayah provinsi itu. Riau Kepulauan pernah berjaya dengan Kerajaan Riau-Lingga dengan pusatnya di Pulau Penyengat. Tinggalan-tinggalan budaya itu ada yang berupa benda bergerak maupun benda tak bergerak seperti bangunan masjid, istana, benteng, dan makam raja-raja Riau-Lingga.

Usaha penelitian dan pelestarian di Situs Pulau Penyengat sudah lama dilakukan dan mulai intensif sejak awal tahun 1980-an. Pada tahun 1981-1983 Pusat Penelitian Arkeologi Nasional bekerjasama dengan École Française d’Extrême-Orient (Perancis) melakukan penelitian arkeologi dan naskah di Pulau Penyengat dan Pulau Bintan. Sementara itu Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala, serta Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Batusangkar, telah melakukan pemugaran di Pulau Penyengat sejak tahun 1982/1983 hingga sekarang dilanjutkan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala.

Penelitian arkeologi yang mengambil lokasi di Situs Kota Lama Penyengat berhasil mengidentifikasikan beberapa buah bangunan, antara lain bangunan istana, masjid, benteng, perkantoran, dan makam raja-raja Riau-Lingga. Di antara bangunan-bangunan itu terdapat tiga macam ukuran jalan, yaitu besar (lebar 8 meter), sedang (lebar 6 meter), dan kecil (di bawah 4 meter). Bangunan Masjid Raya yang dibangun oleh Sultan Abdurahman Muazham Shah pada tahun 1833 merupakan bangunan yang kondisinya terbaik karena merupakan living monumen.
Usaha penelitian dan pelestarian terhadap tinggalan budaya tersebut bukan tidak menghadapi kendala. Anggaran yang terbatas merupakan kendala utama, apalagi untuk pelestarian suatu areal yang luasnya sekitar 20 ha. Bagaimana mungkin dapat terpelihara dengan baik kalau untuk areal seluas itu hanya terdapat 6/7 juru pelihara. Namun, meskipun dengan keterbatasan dana perhatian terhadap pelestarian benda cagar budaya di Penyengat hingga sekarang tidak pernah surut. Berbagai perbaikan dan pelestarian terus dilakukan.

Tulisan tentang tinggalan budaya masa lampau di Penyengat (Kompas, 7-8 Maret 2005) secara tersurat dan tersirat menggugat usaha pelestarian bentuk fisiknya saja, tetapi sebetulnya yang harus “dipugar” dan dilestarikan adalah nilai-nilai budaya masyarakatnya yang sedang mengalami degradasi. Mengapa demikian ? Kita kembali kepada pesan yang tersurat dan tersirat dalam Gurindam Duabelas dimana disebutkan ajaran-ajaran moral, yaitu Pemimpin yang baik akan memberikan contoh moral yang baik pula kepada yang dipimpinnya. Dikaitkan dengan tinggalan budaya materi, dapat diibaratkan bahwa tinggalan yang ada di Penyengat bagaikan onggokan sampah. Kemudian sampah ini dipugar dengan biaya yang cukup besar. Tetapi karena moral masyarakatnya tidak juga dipugar, maka uang yang dikeluarkan untuk pemugaran fisik tadi menjadi sampah lagi. Dengan demikian bangunan-bangunan yang telah dipugar tidak ada gunanya.

Di Tanjung Pinang ada Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional (BKSNT) untuk wilayah Jambi dan Riau. Tugasnya adalah melakukan kajian terhadap tinggalan budaya yang intangible (budaya tak benda) yang datanya antara lain diperoleh dari sumber yang tangible (budaya benda, naskah). Hasil kajian dari BKSNT ini semestinya disosialisasikan untuk dapat diimplementasikan pada masyarakat, bukan masuk ke perpustakaan atau gudang. Kemudian siapa yang “memugar” moral masyarakatnya? Tentu saja anggota masyarakat itu melalui pemimpin dan tokoh-tokoh masyarakatnya, seperti yang telah dipesankan oleh Raja Ali Haji melalui Gurindam Duabelas.

Tanggungjawab benda tinggalan budaya masa lampau di Penyengat, baik benda tak bergerak maupun benda bergerak, tidak sepenuhnya dibebankan pada Balai Penyelamatan Peninggalan Purbakala wilayah Riau dan Sumatera Barat. Ada kesan saling melempar tanggungjawab jika sudah menyangkut masalah pengadaan dana. Tuntutan datang dari kelompok yang merasa dikesampingkan, dalam arti tidak diikutsertakan dalam proyek kegiatan.

Pusat Budaya Melayu
Beberapa waktu yang lalu, 2-4 Desember 2003, ketika para Menteri Kebudayaan dan Pariwisata berkumpul di Beijing dalam rangka Asia-Europe Meeting Ministerial on Cultures and Civilizations, berlangsung suatu pembicaraan bilateral antara Minister for Information, Communication and the Arts Singapura dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia. Dalam pembicaraan itu antara lain disepakati bahwa Indonesia diminta untuk membantu terbentuknya Pusat Kebudayaan Melayu (Malay Heritage Centre) di Singapura. Sementara itu, di Malaysia telah ada semacam pusat kajian Melayu dalam bentuk institut, yaitu Institut Alam dan Tamadun Melayu (Institut ATMA) yang mengkaji peradaban (tamadun) Melayu dengan segala macam aspeknya, dan Singapura telah memiliki Institute of Southeast Asia Study (ISEAS) yang juga mengkaji bidang-bidang Sosial, Ekonomi, Politik, dan Kebudayaan Asia Tenggara.

ATMA merupakan pusat penyelidikan dan pengkajian Melayu di Malaysia yang dibina khusus untuk menghimpun peneliti dan sarjana dari seluruh dunia dalam suatu usaha besar untuk membina suatu khazanah dan pengetahuan yang lengkap tentang dunia dan peradaban Melayu. Institut ini secara organisasi berada di bawah naungan Universiti Kebangsaan Malaysia. Pada awal berdirinya (tahun 1972) institut ini bernama Institut Bahasa, Kesusasteraan dan Kebudayaan Melayu (Institut BKKM). Kemudian sejak tahun 1993 namanya diubah menjadi Institut ATMA.

Tanggal 28 Juli – 1 Agustus 2004 yang baru lalu, di Tanjung Pinang ada perhelatan budaya yang mengambil tema “Revitalisasi Budaya Melayu”. Perhelatan semacam ini diselenggarakan setiap tahun di tempat yang sama dan dihadiri oleh para pakar dan juragan birokrat pemerintahan. Revitalisasi Budaya Melayu hendak menghidupkan kembali sesuatu yang pernah ada, tetapi sudah lama dilupakan masyarakat. Taufik Ikram Jamil berpendapat, upaya merevitalisasi budaya Melayu tidak lain memberi pemaknaan kembali atau mereposisi kebudayaan Melayu dalam konteks kekinian.

Pendapat dari Taufik Ikram Jamil mungkin perlu digaris bawahi. Raja Malik Hasrizal (seorang pemerhati budaya Melayu) menegaskan: “kondisi Tanjung Pinang saat ini adalah sebuah penurunan moral yang sangat tajam. Bobroknya moral akibat terkikisnya budaya menyebabkan masyarakat hancur” (Kompas, 8 Maret 2005). Rupanya generasi sekarang sudah melupakan budayanya, sudah melupakan pesan-pesan dari Gurindam Duabelas-nya Raja Ali Haji. Jadi pesan dari Gurindam Duabelas untuk memberi pemaknaan kembali kebudayaan Melayu harus dimulai dari pihak yang menjadi panutan, seperti tokoh-tokoh masyarakat dan para juragan di pemerintahan. Rupa-rupanya ada salah persepsi mengenai revitalisasi. Di satu fihak mengacu kepada moral, dan di lain fihak mengacu kepada materi (pemugaran bangunan). Saya lebih suka menterjemahkannya sebagai merevitalisasi moral masyarakat di Tanjung Pinang dan sekitarnya yang sudah mengalami degradasi dan tidak menunjukkan identitas kemelayuannya.

Melihat kekayaan budaya Melayu di Penyengat, aktivitas Pekan Budaya Melayu yang setiap tahun diselenggarakan, dan pernah menjadi pusat kajian Melayu pada sekitar abad ke-19, sudah sepantasnya di Tanjung Pinang atau di Penyengat dibangun Pusat Kajian Kebudayaan Melayu, atau memaksimalkan (revitalisasi) tugas dan fungsi Balai Kajian Sejarah dan Nilai Tradisional. Mungkin ini dapat dikatakan sangat penting dan perlu disegerakan pembangunannya, karena 5
dikhawatirkan dalam waktu dekat tinggalan-tinggalan naskah segera berpindah tangan. Seorang sahabat di Johor sering menginformasikan bahwa Muzium Johor baru saja membeli naskah dari Tanjung Pinang. Tidak mustahil hal yang sama juga dilakukan oleh ISEAS Singapura. Apalagi Singapura berniat membuat Malay Heritage Centre. Dengan demikian, sebaiknya kita tidak perlu membantu Singapura dalam membangun Malay Heritage Centre, karena berarti sama saja mempelajari budaya sendiri di negeri orang. Kalaupun ada kerjasama, tidak perlu naskah aslinya dibawa ke Singapura, tetapi dalam bentuk mikrofilm misalnya.

Entah apa dasar filosofinya Pemerintah Kota Tanjung Pinang telah berani mencanangkan kotanya dengan sebutan Kota Gurindam. Tentunya dengan sebutan itu mereka harus berani mempertanggungjawabkan pemakaiannya. Dapatkah para tokoh masyarakat dan juragan di pemerintahan mempertanggungjawabkan sesuai dengan yang telah dipesankan oleh Raja Ali Haji melalui Gurindam Duabelas-nya?

Bambang Budi Utomo
Kerani Rendahan pada
Pusat Penelitian Arkeologi Nasional

Sriwijaya Dan Peta Kesatuan Melayu Nusantara

Sriwijaya - Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
[Dialihkan dari Kerajaan Sriwijaya]
Sriwijaya (atau juga disebut Srivijaya; Thai: ศรีวิชัย atau "Ṣ̄rī wichạy") adalah salah satu kerajaan maritim yang kuat di pulau Sumatra dan banyak memberi pengaruh di Nusantara dengan daerah kekuasaan membentang dari Kamboja, Thailand, Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi[1][2]. Dalam bahasa Sansekerta, sri berarti "bercahaya" dan wijaya berarti "kemenangan"[2]. Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan ini berasal dari abad ke-7; seorang pendeta Tiongkok, I-tsing, menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan[3][2][4][5]. Selanjut prasasti yang paling tua mengenai Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, yaitu Prasasti Kedukan Bukit di Palembang, bertarikh 682[6][7]. Kemunduran pengaruh Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai menyusut dikarenakan beberapa peperangan[2] diantaranya serangan dari raja Dharmawangsa dari Jawa ditahun 990, dan tahun 1025 serangan Rajendra Coladewa dari Koromandel, selanjutnya tahun 1183 Sriwijaya dibawah kendali Kerajaan Dharmasraya. Dan di akhir masa, kerajaan ini takluk di bawah kerajaan Majapahit[8].
Setelah Sriwijaya jatuh, kerajaan ini terlupakan dan sejarawan tidak mengetahui keberadaan kerajaan ini. Eksistensi Sriwijaya diketahui secara resmi tahun 1918 oleh sejarawan Perancis George Cœdès dari École française d'Extrême-Orient[2]. Sekitar tahun 1992 hingga 1993, Pierre-Yves Manguin membuktikan bahwa pusat Sriwijaya berada di Sungai Musi antara Bukit Seguntang dan Sabokingking (terletak di provinsi Sumatra Selatan, Indonesia)[2].

Historiografi

Tidak terdapat catatan lebih lanjut mengenai Sriwijaya dalam sejarah Indonesia; masa lalunya yang terlupakan dibentuk kembali oleh sarjana asing. Tidak ada orang Indonesia modern yang mendengar mengenai Sriwijaya sampai tahun 1920-an, ketika sarjana Perancis George Coedès mempublikasikan penemuannya dalam koran berbahasa Belanda dan Indonesia.[9] Coedès menyatakan bahwa referensi Tiongkok terhadap "San-fo-ts'i", sebelumnya dibaca "Sribhoja", dan beberapa prasasti dalam Melayu Kuno merujuk pada kekaisaran yang sama.[10]
Sriwijaya menjadi simbol kebesaran Sumatera awal, dan kerajaan besar Nusantara selain Majapahit di Jawa Timur. Pada abad ke-20, kedua kerajaan tersebut menjadi referensi oleh kaum nasionalis untuk menunjukkan bahwa Indonesia merupakan satu kesatuan negara sebelelum kolonialisme Belanda.[9]
Sriwijaya disebut dengan berbagai macam nama. Orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shih atau San-fo-ts'i atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sansekerta dan Pali, kerajaan Sriwijaya disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabag dan Khmer menyebutnya Malayu. Banyaknya nama merupakan alasan lain mengapa Sriwijaya sangat sulit ditemukan[2].
Berikut ini adalah beberapa sumber sejarah yang diketahui berkaitan dengan Sriwijaya:

[sunting] Prasasti Yang Berkaitan dengan Sriwijaya

[sunting] Sumber Berita Tiongkok

- Kronik dari Dinasti Tang
- Kronik Dinasti Sung
- Kronik Dinasti Ming
- Kronik Perjalanan I Tsing
- Kronik Chu-fan-chi oleh Chau Ju-kua
- Kronik Tao Chih Lio oleh Wang Ta Yan
- Kronik Ling-wai Tai-ta oleh Chou Ku Fei
- Kronik Ying-yai Sheng-lan oleh Ma Huan

[sunting] Prasasti Berbahasa Melayu Kuno

- Prasasti Kedukan Bukit tanggal 16 Juni 682 Masehi di Palembang
- Prasasti Talang Tuo tanggal 23 Maret 684 Masehi di Palembang
- Prasasti Telaga Batu abad ke-7 Masehi di Palembang
- Prasasti Palas Pasemah abad ke-7 Masehi di Lampung Selatan
- Prasasti Karang Brahi abad ke-7 Masehi di Jambi
- Prasasti Kota Kapur tanggal 28 Februari 686 Masehi di P. Bangka
- Prasasti Sojomerto abad ke-7 Masehi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah

[sunting] Kitab Beraksara Melayu

[sunting] Pembentukan dan pertumbuhan

Belum banyak bukti fisik mengenai Sriwijaya yang dapat ditemukan[11]. Kekaisaran Sriwijaya telah ada sejak 671 sesuai dengan catatan I-tsing.
Kerajaan ini menjadi pusat perdagangan dan merupakan negara maritim. Negara ini tidak memperluas kekuasaannya diluar wilayah kepulauan Asia Tenggara, dengan pengecualian berkontribusi untuk populasi Madagaskar sejauh 3.300 mil di barat. Sekitar tahun 500, akar Sriwijaya mulai berkembang di wilayah sekitar Palembang, Sumatera. Kerajaan ini terdiri atas tiga zona utama - daerah ibukota muara yang berpusatkan Palembang, lembah Sungai Musi yang berfungsi sebagai daerah pendukung dan daerah-daerah muara saingan yang mampu menjadi pusat kekuasan saingan. Wilayah hulu sungai Musi kaya akan berbagai komoditas yang berharga untuk pedagang Tiongkok [2] Ibukota diperintah secara langsung oleh penguasa, sementara daerah pendukung tetap diperintah oleh datu setempat.
Dari Prasasti Kedukan Bukit pada tahun 682 di bawah kepemimpinan Dapunta Hyang Jayanasa, Kerajaan Minanga takluk di bawah imperium Sriwijaya. Penguasaan atas Malayu yang kaya emas telah meningkatkan prestise kerajaan[2].
Berdasarkan Prasasti Kota Kapur yang yang berangka tahun 682 dan ditemukan di pulau Bangka, Pada akhir abad ke-7 kemaharajaan ini telah menguasai bagian selatan Sumatera, pulau Bangka dan Belitung, hingga Lampung. Prasasti ini juga menyebutkan bahwa Jayanasa telah melancarkan ekspedisi militer untuk menghukum Bhumi Jawa yang tidak berbakti kepada Sriwijaya, peristiwa ini bersamaan dengan runtuhnya Tarumanagara di Jawa Barat dan Holing (Kalingga) di Jawa Tengah yang kemungkinan besar akibat serangan Sriwijaya. Sriwijaya tumbuh dan berhasil mengendalikan jalur perdagangan maritim di Selat Malaka, Selat Sunda, Laut China Selatan, Laut Jawa, dan Selat Karimata.
Di abad ke-7, orang Tionghoa mencatat bahwa terdapat dua kerajaan di Sumatera yaitu Malayu dan Kedah dan tiga kerajaan di Jawa menjadi bagian kemaharajaan Sriwijaya. Di akhir abad ke-8 beberapa kerajaan di Jawa, antara lain Tarumanegara dan Holing berada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Menurut catatan, pada masa ini pula wangsa Melayu-Budha Sailendra bermigrasi ke Jawa Tengah dan berkuasa disana[2]. Di abad ini pula, Langkasuka di semenanjung Melayu menjadi bagian kerajaan[2]. Di masa berikutnya, Pan Pan dan Trambralinga, yang terletak di sebelah utara Langkasuka, juga berada di bawah pengaruh Sriwijaya.
Ekspansi kerajaan ini ke Jawa dan Semenanjung Malaya, menjadikan Sriwijaya mengontrol dua pusat perdagangan utama di Asia Tenggara. Berdasarkan observasi, ditemukan reruntuhan candi-candi Sriwijaya di Thailand dan Kamboja. Di abad ke-7, pelabuhan Cham di sebelah timur Indochina mulai mengalihkan banyak pedagang dari Sriwijaya. Untuk mencegah hal tersebut, Maharaja Dharmasetu melancarkan beberapa serangan ke kota-kota pantai di Indochina. Kota Indrapura di tepi sungai Mekong, di awal abad ke-8 berada di bawah kendali Sriwijaya. Sriwijaya meneruskan dominasinya atas Kamboja, sampai raja Khmer Jayawarman II, pendiri imperium Khmer, memutuskan hubungan dengan kerajaan di abad yang sama[2].
Setelah Dharmasetu, Samaratungga menjadi penerus kerajaan. Ia berkuasa pada periode 792 sampai 835. Tidak seperti Dharmasetu yang ekspansionis, Samaratungga tidak melakukan ekspansi militer, tetapi lebih memilih untuk memperkuat penguasaan Sriwijaya di Jawa. Selama masa kepemimpinannya, ia membangun candi Borobudur di Jawa Tengah yang selesai pada tahun 825[2].
Di abad ke-9, wilayah kemaharajaan Sriwijaya meliputi Sumatera, Sri Lanka, Semenanjung Malaya, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku, Kalimantan, dan Filipina.[12] Dengan penguasaan tersebut, kerajaan Sriwijaya menjadi kerajaan maritim yang hebat hingga abad ke-13[2].

[sunting] Budha Vajrayana

Sebagai pusat pengajaran Budha Vajrayana, Sriwijaya menarik banyak peziarah dan sarjana dari negara-negara di Asia. Antara lain pendeta dari Tiongkok I-tsing, yang melakukan kunjungan ke Sumatera dalam perjalanan studinya di Universitas Nalanda, India, pada tahun 671 dan 695, serta di abad ke-11, Atisha, seorang sarjana Budha asal Benggala yang berperan dalam mengembangkan Budha Vajrayana di Tibet. I-tsing melaporkan bahwa Sriwijaya menjadi rumah bagi ribuan sarjana Budha sehingga menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pengunjung yang datang ke pulau ini menyebutkan bahwa koin emas telah digunakan di pesisir kerajaan.
Selain itu ajaran Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana juga turut berkembang di Sriwijaya.

[sunting] Relasi dengan kekuatan regional

Dari catatan sejarah dan bukti arkeologi, dinyatakan bahwa pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan kolonisasi di hampir seluruh kerajaan-kerajaan Asia Tenggara, antara lain: Sumatera, Jawa, Semenanjung Malaya, Kamboja, dan Vietnam Selatan[2]. Dominasi atas Selat Malaka dan Selat Sunda, menjadikan Sriwijaya sebagai pengendali rute perdagangan rempah dan perdagangan lokal yang mengenakan biaya atas setiap kapal yang lewat. Sriwijaya mengakumulasi kekayaannya sebagai pelabuhan dan gudang perdagangan yang melayani pasar Tiongkok, dan India.
Minanga merupakan kekuatan pertama yang menjadi pesaing Sriwijaya yang akhirnya dapat ditaklukkan pada abad ke-7. Kerajaan Melayu ini, memiliki pertambangan emas sebagai sumber ekonomi dan kata Swarnnadwipa (pulau emas) mungkin merujuk pada hal ini. Dan kemudian Kedah juga takluk dan menjadi daerah bawahan[13].
Pada masa awal, Kerajaan Khmer juga menjadi daerah jajahan Sriwijaya. Banyak sejarawan mengklaim bahwa Chaiya, di propinsi Surat Thani, Thailand Selatan, sebagai ibu kota terakhir kerajaan tersebut, pengaruh Sriwijaya nampak pada bangunan pagoda Borom That yang bergaya Sriwijaya. Setelah kejatuhan Sriwijaya, Chaiya terbagi menjadi tiga kota yakni (Mueang) Chaiya, Thatong (Kanchanadit), dan Khirirat Nikhom.
Sriwijaya juga berhubungan dekat dengan kerajaan Pala di Benggala, dan sebuah prasasti berangka 860 mencatat bahwa raja Balaputra mendedikasikan seorang biara kepada Universitas Nalada, Pala. Relasi dengan dinasti Chola di India selatan cukup baik dan kemudian menjadi buruk setelah Rajendra Coladewa naik tahta dan melakukan penyerangan di abad ke-11.

Masa keemasan

Di tahun 902, Sriwjaya mengirimkan upeti ke China. Dua tahun kemudian raja terakhir dinasti Tang menganugerahkan gelar kepada utusan Sriwijaya. Dari literatur Tiongkok utusan itu mempunyai nama Arab hal ini memberikan informasi bahwa pada masa-masa itu Sriwijaya sudah berhubungan dengan Arab yang memungkinkan Sriwijaya sudah masuk pengaruh Islam di dalam kerajaan[14].
Pada paruh pertama abad ke-10, diantara kejatuhan dinasti Tang dan naiknya dinasti Song, perdagangan dengan luar negeri cukup marak, terutama Fujian, kerajaan Min dan negeri kaya Guangdong, kerajaan Nan Han. Tak diragukan lagi Sriwijaya mendapatkan keuntungan dari perdagangan ini. Pada tahun 903, penulis Muslim Ibn Batutah sangat terkesan dengan kemakmuran Sriwijaya. Daerah urban kerajaan meliputi Palembang (khususnya Bukit Seguntang), Muara Jambi dan Kedah.

[sunting] Penurunan

Tahun 1025, Rajendra Coladewa, raja Chola dari Koromandel, India selatan, menaklukkan Kedah dan merampasnya dari Sriwijaya. Kemudian Kerajaan Chola meneruskan penyerangan dan berhasil penaklukan Sriwijaya, selama beberapa dekade berikutnya keseluruh imperium Sriwijaya berada dalam pengaruh Rajendra Coladewa. Meskipun demikian Rajendra Coladewa tetap memberikan peluang kepada raja-raja yang ditaklukannya untuk tetap berkuasa selama tetap tunduk kepadanya. Setelah invasi tersebut, akhirnya mengakibatkan melemahnya hegemoni Sriwijaya, dan kemudian beberapa daerah bawahan membentuk kerajaan sendiri, dan kemudian muncul Kerajaan Dharmasraya, sebagai kekuatan baru dan kemudian mencaplok kawasan semenanjung malaya dan sumatera termasuk Sriwijaya itu sendiri.
Antara tahun 1079 - 1088, kronik Tionghoa masih mencatat bahwa San-fo-ts'i masih mengirimkan utusan dari Jambi dan Palembang. Dalam berita Cina yang berjudul Sung Hui Yao disebutkan bahwa kerajaan San-fo-tsi pada tahun 1082 mengirim utusan dimana pada masa itu Cina di bawah pemerintahan Kaisar Yuan Fong. Duta besar tersebut menyampaikan surat dari raja Kien-pi bawahan San-fo-tsi, yang merupakan surat dari putri raja yang diserahi urusan negara San-fo-tsi, serta menyerahkan pula 227 tahil perhiasan, rumbia, dan 13 potong pakaian. Dan kemudian dilanjutkan dengan pengiriman utusan selanjutnya di tahun 1088[2].
Berdasarkan sumber Tiongkok pada buku Chu-fan-chi[15]yang ditulis pada tahun 1178, Chou-Ju-Kua menerangkan bahwa di kepulauan Asia Tenggara terdapat dua kerajaan yang sangat kuat dan kaya, yakni San-fo-ts'i dan Cho-po (Jawa). Di Jawa dia menemukan bahwa rakyatnya memeluk agama Budha dan Hindu, sedangkan rakyat San-fo-ts'i memeluk Budha, dan memiliki 15 daerah bawahan yang meliputi; Pong-fong (Pahang), Tong-ya-nong (Terengganu), Ling-ya-si-kia (Langkasuka), Kilantan (Kelantan), Fo-lo-an (muara sungai Dungun daerah Terengganu sekarang), Ji-lo-t'ing (Cherating, pantai timur semenanjung malaya), Ts'ien-mai (Semawe, pantai timur semenanjung malaya), Pa-t'a (Sungai Paka, pantai timur semenanjung malaya), Tan-ma-ling (Tambralingga, Ligor, selatan Thailand), Kia-lo-hi (Grahi, Chaiya sekarang, selatan Thailand), Pa-lin-fong (Palembang), Kien-pi (Jambi), Sin-t'o (Sunda), Lan-wu-li (Lamuri di Aceh), and Si-lan (Kamboja)[8][16]
Namun demikian, istilah San-fo-tsi terutama pada tahun 1225 tidak lagi identik dengan Sriwijaya, melainkan telah identik dengan Dharmasraya, dimana pusat pemerintahan dari San-fo-tsi telah berpindah, jadi, dari daftar 15 negeri bawahan San-fo-tsi tersebut merupakan daftar jajahan kerajaan Dharmasraya yang sebelumnya merupakan daerah bawahan dari Sriwijaya dan berbalik menguasai Sriwijaya beserta daerah jajahan lainnya.
Pada tahun 1275, Singhasari, penerus kerajaan Kediri di Jawa, melakukan suatu ekspedisi, dalam Pararaton disebut semacam ekspansi dan menaklukan bhumi malayu yang dikenal dengan nama Ekspedisi Pamalayu, yang kemudian Kertanagara raja Singhasari menghadiahkan Arca Amoghapasa kepada Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa raja Melayu di Dharmasraya seperti yang tersebut dalam Prasasti Padang Roco. Dan selanjutnya pada tahun 1293, muncul Majapahit sebagai pengganti Singhasari, dan setelah Ratu Tribhuwana Wijayatunggadewi naik tahta, memberikan tanggung jawab kepada Adityawarman, seorang peranakan Melayu dan Jawa, untuk kembali menaklukkan Swarnnabhumi pada tahun 1339. Dan dimasa itu nama Sriwijaya sudah tidak ada disebut lagi tapi telah diganti dengan nama Palembang hal ini sesuai dengan Nagarakretagama yang menguraikan tentang daerah jajahan Majapahit.
Dalam Kidung Pamacangah dan Babad Arya Tabanan juga disebut 'Arya Damar' sebagai bupati Palembang yang berjasa membantu Gajah Mada dalam menaklukkan Bali pada tahun 1343[17], Prof. C.C. Berg menganggapnya identik dengan Adityawarman[18].

[sunting] Perdagangan

Di dunia perdagangan, Sriwijaya menjadi pengendali jalur perdagangan antara India dan Tiongkok, yakni dengan penguasaan atas selat Malaka dan selat Sunda. Orang Arab mencatat bahwa Sriwijaya memiliki aneka komoditi seperti kamper, kayu gaharu, cengkeh, pala, kepulaga, gading, emas, dan timah yang membuat raja Sriwijaya sekaya raja-raja di India. Kekayaan yang melimpah ini telah memungkinkan Sriwijaya membeli kesetiaan dari vassal-vassalnya di seluruh Asia Tenggara.

[sunting] Pengaruh budaya

Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya Hindu dan kemudian diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Sriwijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu melalui perdagangan dan penaklukkan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9. Sehingga secara langsung turut serta mengembangkan bahasa Melayu dan kebudayaan Melayu di Nusantara.

[sunting] Pengaruh Islam

Sangat dimungkinkan bahwa Sriwijaya yang termahsyur sebagai bandar pusat perdagangan di Asia Tenggara, sekaligus sebagai pusat pembelajaran agama Budha, juga ramai dikunjungi pendatang dari Timur Tengah dan mulai dipengaruhi oleh pedagang dan ulama muslim. Sehingga beberapa kerajaan yang semula merupakan bagian dari Sriwijaya, kemudian tumbuh menjadi cikal-bakal kerajaan-kerajaan Islam di Sumatera kelak, disaat melemahnya pengaruh Sriwijaya.
Ada sumber yang menyebutkan, karena pengaruh orang muslim Arab yang banyak berkunjung di Sriwijaya, maka raja Sriwijaya yang bernama Sri Indrawarman masuk Islam pada tahun 718 [19]. Sehingga sangat dimungkinkan kehidupan sosial Sriwijaya adalah masyarakat sosial yang di dalamnya terdapat masyarakat Budha dan Muslim sekaligus. Tercatat beberapa kali raja Sriwijaya berkirim surat ke khalifah Islam di Suriah [14]. Bahkan disalah satu naskah surat adalah ditujukan kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz (717-720M) dengan permintaan agar khalifah sudi mengirimkan da'i ke istana Sriwijaya.

[sunting] Warisan sejarah

Meskipun Sriwijaya hanya menyisakan sedikit peninggalan arkeologi dan terlupakan dari ingatan masyarakat Melayu pendukungnya, penemuan kembali kemaharajaan bahari ini oleh Coedès pada tahun 1920-an telah membangkitkan kesadaran bahwa suatu bentuk persatuan politik raya, berupa kemaharajaan yang terdiri atas persekutuan kerajaan-kerajaan bahari, pernah bangkit, tumbuh, dan berjaya di masa lalu.
Berdasarkan Hikayat Melayu, pendiri Kesultanan Malaka mengaku sebagai pangeran Palembang, keturunan keluarga bangsawan Palembang dari trah Sriwijaya. Hal ini menunjukkan bahwa pada abad ke-15 keagungan, gengsi dan prestise Sriwijaya tetap dihormati dan dijadikan sebagai sumber legitimasi politik bagi penguasa di kawasan ini.
Di samping Majapahit, kaum nasionalis Indonesia juga mengagungkan Sriwijaya sebagai sumber kebanggaan dan bukti kejayaan masa lampau Indonesia.[20] Kegemilangan Sriwijaya telah menjadi sumber kebanggaan nasional dan identitas daerah, khususnya bagi penduduk kota Palembang, provinsi Sumatera Selatan, dan segenap bangsa Melayu. Bagi penduduk Palembang, keluhuran Sriwijaya telah menjadi inspirasi seni budaya, seperti lagu dan tarian tradisional Gending Sriwijaya. Hal yang sama juga berlaku bagi masyarakat Thailand Selatan yang menciptakan kembali tarian Sevichai (Sriwijaya) yang berdasarkan pada keanggunan seni budaya Sriwijaya.
Di Indonesia, nama Sriwijaya telah digunakan dan diabadikan sebagai nama jalan di berbagai kota, dan nama ini telah melekat dengan kota Palembang dan Sumatera Selatan. Universitas Sriwijaya yang didirikan tahun 1960 di Palembang dinamakan berdasarkan kedatuan Sriwijaya. Demikian pula Kodam Sriwijaya (unit komando militer), PT Pupuk Sriwijaya (Perusahaan Pupuk di Sumatera Selatan), Sriwijaya Post (Surat kabar harian di Palembang), Sriwijaya TV, Sriwijaya Air (maskapai penerbangan), Stadion Gelora Sriwijaya, dan Sriwijaya Football Club (Klab sepak bola Palembang), semua dinamakan demikian untuk menghormati, memuliakan, dan merayakan kegemilangan kemaharajaan Sriwijaya.

Raja yang memerintah

Para Maharaja Sriwijaya[2][8]
Tahun Nama Raja Ibukota Prasasti, catatan pengiriman utusan ke Tiongkok serta peristiwa
671 Dapunta Hyang Sri Jayanasa Srivijaya Catatan perjalanan I-tsing di tahun 671-685 Prasasti Kedukan Bukit (683), Talang Tuo (684), dan Kota Kapur Penaklukan Malayu, penaklukan Jawa
702 Sri Indravarman Che-li-to-le-pa-mo
Srivijaya Shih-li-fo-shih
Utusan ke Tiongkok 702-716, 724 Utusan ke Khalifah Muawiyah I dan Khalifah Umar bin Abdul Aziz
728 Rudra Vikraman Lieou-t'eng-wei-kong
Srivijaya Shih-li-fo-shih
Utusan ke Tiongkok 728-742
743-760

Tidak ada berita pada periode ini


Pindah ke Jawa Wangsa Sailendra mengantikan Wangsa Sanjaya
760 Maharaja Wisnu Dharmmatunggadewa
Jawa Prasasti Ligor A, menaklukkan Kamboja.
775 Dharanindra Sanggramadhananjaya Jawa Piagam Kalasan 778
782 Samaragrawira Jawa Prasasti Nalanda
792 Samaratungga Jawa Prasasti Karang Tengah, tahun 824. 825 menyelesaikan pembangunan candi Borobudur



Kebangkitan Wangsa Sanjaya, Rakai Pikatan
835 Balaputradewa Srivijaya Kehilangan kekuasaan di Jawa, dan kembali ke Srivijaya Prasasti Nalanda (860)
860-960

Tidak ada berita pada periode ini
960 Sri Udayadityavarman Se-li-hou-ta-hia-li-tan
Srivijaya San-fo-ts'i
Utusan ke Tiongkok 960, & 962
980 Hie-tche (Haji) Srivijaya San-fo-ts'i
Utusan ke Tiongkok 980 & 983
988 Sri Cudamanivarmadeva Se-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa
Srivijaya San-fo-ts'i
Utusan ke Tiongkok 988-992-1003 990 Jawa menyerang Srivijaya, pembangunan kuil untuk Kaisar China, Prasasti Tanjore atau Prasasti Leiden (1044), pemberian anugrah desa oleh raja-raja I
1008 Sri Maravijayottungga Se-li-ma-la-pi
Srivijaya San-fo-ts'i
Utusan ke Tiongkok 1008
1017 Sumatrabhumi Srivijaya San-fo-ts'i
Utusan ke Tiongkok 1017
1025 Sangramavijayottungga Srivijaya San-fo-ts'i
Diserang oleh Rajendra Coladewa Prasasti Chola pada candi Rajaraja, Tanjore
1028

Dibawah Dinasti Rajendra Coladewa dari Koromandel
1079 Rajendra Dewa Kulottungga Ti-hua-ka-lo
Palembang Pa-lin-fong
Utusan ke Tionkok 1079 Memperbaiki candi Tien Ching di Kuang Cho (dekat Kanton)
1100 Rajendra II Palembang Pa-lin-fong

1156 Rajendra III Palembang Pa-lin-fong
Piagam Larger Leyden Plates
1183

Dibawah Dinasti Mauli, Kerajaan Melayu
1183-1286 Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa Dharmasraya Prasasti Grahi tahun 1183 di selatan Thailand
1286-1293 Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa Dharmasraya Prasasti Padang Roco tahun 1286 di Siguntur
1293-1339

Tidak ada berita pada periode ini
1339
Palembang Dibawah Dinasti Majapahit
1347 Srīmat Srī Udayādityawarma Pratāpaparākrama Rājendra Maulimāli Warmadewa Malayapura Kembali dibawah Dinasti Mauli
1409

Penaklukan kembali oleh Majapahit, sebagian dari bangsawannya pindah ke Tumasik atau Malaka


Referensi

  1. ^ George Coedès, (1930), Les inscriptions malaises de Çrivijaya, BEFEO.
  2. ^ a b c d e f g h i j k l m n o p q Munoz, Paul Michel (21 Juni 2010). Early Kingdoms of the Indonesian Archipelago and the Malay Peninsula. Singapore: Editions Didier Millet. hal. pages 171. ISBN 981-4155-67-5.
  3. ^ Gabriel Ferrand, (1922), L’Empire Sumatranais de Crivijaya, Imprimerie Nationale, Paris, “Textes Chinois”
  4. ^ Zain, Sabri Sejarah Melayu, Buddhist Empires.
  5. ^ Junjiro Takakusu, (1896), A record of the Buddhist Religion as Practised in India and the Malay Archipelago AD 671-695, by I-tsing, Oxford, London.
  6. ^ J.G. de Casparis, (1975), Indonesian Paleography.
  7. ^ Peter Bellwood, James J. Fox, Darrell Tryon The Austronesians: Historical and Comparative Perspectives.
  8. ^ a b c Slamet Muljana, (2006), Sriwijaya, Yogyakarta: LKIS.
  9. ^ a b Taylor, Jean Gelman (21 Juni 2010). Indonesia: Peoples and Histories. New Haven and London: Yale University Press. hal. pp. 8-9. ISBN 0-300-10518-5.
  10. ^ Krom, N.J. (21 Juni 2010). "Het Hindoe-tijdperk". di dalam F.W. Stapel. Geschiedenis van Nederlandsch Indië. Amsterdam: N.V. U.M. Joost van den Vondel. hal. vol. I p. 149.
  11. ^ Taylor. Indonesia. hal. hal. 29.
  12. ^ Rasul, Jainal D. (21 Juni 2010). Agonies and Dreams: The Filipino Muslims and Other Minorities". Quezon City: CARE Minorities. hal. pages 77.
  13. ^ Oliver W. Wolters, (1967), Early Indonesian Commerce, Cornell University Press, Ithaca.
  14. ^ a b Prof. Dr. Azyumardi Azra, MA., (21 Juni 1994). Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII & XVIII. Jakarta: Mizan.
  15. ^ Friedrich Hirth and W.W.Rockhill, (1911), Chao Ju-kua, His Work on the Chinese and Arab Trade in the Twelfth and Thirteen centuries, entitled Chu-fan-chi, St Petersburg.
  16. ^ Drs. R. Soekmono, (Kesalahan: waktu tidak valid). Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2, 2nd ed.. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. hal. 60.
  17. ^ Darta, A.A. Gde, A.A. Gde Geriya, A.A. Gde Alit Geria, (1996), Babad Arya Tabanan dan Ratu Tabanan, Denpasar: Upada Sastra.
  18. ^ C.C. Berg, (1985), Penulisan Sejarah Jawa. (terj.), Jakarta: Bhratara.
  19. ^ H. Zainal Abidin Ahmad (21 Juni 1979). Ilmu politik Islam V, Sejarah Islam dan Umatnya sampai sekarang; Bulan Bintang.
  20. ^ Centrality: Indonesia's changing role in ASEAN

[sunting] Pranala Luar

Sites About Melayu

Berebut Budaya Di Perbatasan

Saat sebagian besar masyarakat Indonesia berleha-leha dan baru kebakaran jenggot oleh klaim-klaim Malaysia, kota-kota di perbatasan dengan negara itu mesti bergelut dengan upaya pengambilan budaya secara terang-terangan.

Heran betul Suryatati A. Manan mendengar perkataan tamunya. Walikota Tanjung Pinang, Bintan, Kepulauan Riau ini bersama masyarakatnya baru saja meresmikan slogan baru kota mereka: Kota Gurindam Negeri Pantun.

Kala itu di tahun 2007 seorang tamu asal Malaysia protes penetapan slogan tersebut karena menurutnya pantun berasal dari Malaysia. “Berdirinya kota Malaka itu ada pantunnya,” kata Suryatati menirukan ucapan tamunya itu. Itu bukan kejadian pertama dan terakhir kota ini berurusan dengan utusan-utusan negara tetangga itu.

Seorang pejabat dinas pariwisata kota ini bercerita ia berkali-kali menerima permintaan dari negeri jiran itu agar mereka dikirimi guru yang bisa mengajar tarian khas melayu.Sering pula datang orang yang berniat mendokumentasikan berbagai artefak kebudayaan melayu yang ada di Tanjung Pinang. Permintaan yang selalu ditolak.

“Kalau mereka ingin menikmati budaya melayu ya datang saja ke sini, bukan dibawa ke sana,” ujarnya. Menghadapi “serbuan” itu, masyarakat Tanjung Pinang tak reaktif dengan membuat aksi sweeping warga Malaysia. Karena banyak dari orang Malaysia yang berkunjung itu sebagai wisatawan dan itu justru mendatangkan devisa. Sebaliknya mereka justru terinspirasi merawat kebudayaan lokal dengan mendokumentasikan pantun dengan target membukukan sejuta pantun klasik dan modern. Sejauh ini sudah ada 10 ribu pantun yang berhasil dikumpulkan. Kota ini juga menargetkan membangun istana pantun yang rencananya akan selesai pada 2012.

Dokumentasi produk budaya asli Indonesia juga dilakukan pengamat kuliner, Bondan Winarno., yang kaget karena Malaysia memasukkan kuetiau (Malaysia menyebutnya char kuey teow atau kuetiau goreng) sebagai warisan nasionalnya. Padahal masakan itu sejatinya tradisi kuliner Tionghoa bukan Melayu. Toh Malaysia beralasan kuetiau mereka itu khas Penang karena dimasak memakai kerang dan pakai kecap. Ketimbang meributkan daftar Malaysia National Heritage yang kabarnya juga memasukkan rendang di dalamnya, Bondan justru terinspirasi memulai proyek pendataan kuliner khas Indonesia.

Ia bertekad menerbitkan dokumentasi masakan yang layak menjadi pusaka kuliner Indonesia. Langkah Bondan ini barangkali bisa diikuti setiap orang di bidangnya masing-masing misalnya pendataan motif-motif batik atau juga flora dan fauna. Nah akan sangat baik jika hasil dokumentasikan itu dibukukan karena buku memang diakui sebagai sumber informasi dan rujukan resmi ketimbang lembaran dokumen pribadi ataupun data yang dimuat dalam situs internet.

Kalaupun ada yang nekat mengklaim warisan budaya Indonesia, bisa dibantah dengan menyodorkan buku dokumentasi yang disusun dengan riset yang sahih tadi. Klaim-klaim yang dibuat negara tetangga justru mesti ditanggapi dengan mengarahkan energi pada langkah-langkah yang positif.

Koleksi Gambar Krisis Di Mesir






Design Pembalut wanita super kreatif dalam foto dan gambar

Produk pembalut wanita tersedia dalam berbagai merek dan type pembalut,  dimodifikasi oleh para produsen pembalut wanita, dan di lempar ke pasaran lewat iklan-iklan pembalut yang kreatif. Foto-foto berikut merupakan design pembalut wanita yang sangat kreatif. dan agak nyeleneh, silahkan disimak foto nya :
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita
Foto Kreatif Design Pembalut wanita

I Am Who I Am