Cari Blog Ini

Jumat, 18 Maret 2011

"Riam Jeram" (sudah ada sejak tahun 96)

Kenapa diberi judul postingan kali ini, "Riam Jeram, Bukan Project Impian" karena usaha ini sudah ada sejak tahun 1996. Penulis merupakan salah satu dari pendiri usaha ini dengan mendirikan PT. Sarana Riam Jeram di Jakarta dan memiliki beberapa persen saham di Perusahaan ini.
Sejak tahun lalu secara resmi melepaskan sahamnya kepada Perusahaan untuk menambah biaya operasi Papaku yang sakit karena adanya pendarahan diotak kecil dikepalanya.
Walaupun sudah tidak mendapatkan duitnya, semoga masih mendapatkan pahalanya... amiin.  hehehe.........

Penulis kenal kegiatan Arung Jeram atau Rafting ini, waktu kuliah dulu dan menjadi anggota Mahasiswa Pencinta Alam ARANYACALA TRISAKTI dengan nomor anggota 335/ARY/92. Dengan beberapa teman dan senior di ARY mendirikan usaha ini.
Awalnya dengan membeli 3 unit perahu (River Boat) dan perlengkapan lainnya dari Amerika pada tahun 1996, mulailah jualan paket Rafting. Sampai-sampai kuliahpun dicuekin, hehehe... alhamdulillah diwisuda juga dengan dikasih waktu batas akhir semester oleh Dekan waktu itu.

Lokasinya di Sungai Cicatih, Sukabumi. 2-3 jam dari Jakarta kearah Pelabuhan Ratu - Jawa Barat, apabila naik kendaraan bermotor. Sungai Cicatih menurut penduduk setempat diartikan "Sungai yang Airnya Berdiri(tegak)", makanya kami waktu itu berani untuk buka usaha petualangan dengan kelas sungai grade 3 dan grade 4 apabila air sungai lagi tinggi.

Riam Jeram sejak tahun 1996 sampai sekarang, alhamdulillah    
Zero Accident, karena mengutamakan
Safety Procedur disungai dan si "Ambon" yang bertanggung jawab dioperasional sungai memiliki
Sertifikat RIVER RESCUE, pelatihan seminggu di Bali. Instrukturnya adalah anggota "SOBEK" Mbahnya Pengarung Jeram Dunia dari Amerika. "Sobek" adalah Organisasi Pengarung Jeram di Amerika yang telah banyak melakukan Ekspedisi mengarungi sungai-sungai ganas di Dunia. Mereka inilah yang mengenalkan Arung Jeram atau Rafting di Indonesia tahun 80an.

Operator Riam Jeram adalah yang pertama membuka usaha di Sungai Cicatih, Sukabumi. Pada saat itu banyak nada miring dari penggiat arung jeram di Indonesia, karena "ganasnya" nih sungai. Tingkat grade sungainya tinggi dan membahayakan bagi orang awam dan kami membukanya untuk wisata arung jeram.

Fasilitas Riam Jeram sekarang:

KAMPOENG JERAM
















FASILITAS LAINNYA:
- OutBound / Outing Group ( acara Perusahaan, Reunian, Keluarga dan lain-lain )
- Paintbal
- Camping Ground
- Nginap juga selain dari Arung Jeram atau Rafting

PAKETNYA



Ada yang pernah cobaiin atau belum, Cobaiin Cuuyy....
Sudah bikin sesuatu dikampung orang.... lagi pengin bikin sesuatu dikampung sendiri....

Jembatan Selat Malaka ( RIAU - MALAYSIA )

Jembatan Riau-Malaysia Bisa Diwujudkan?
Editor: Benny N Joewono
Minggu, 13 Maret 2011 | 22:35 WIB
Sumber :
http://internasional.kompas.com/read/2011/03/13/22351845/Jembatan.Riau-Malaysia.Bisa.Diwujudkan
shutterstock ilustrasi
AYER KEROH, KOMPAS.com — Pemerintah Negara Bagian Malaka, Malaysia, mengharapkan terwujudnya pembangunan jembatan yang menghubungkan wilayah negara bagian itu dengan Provinsi Riau (Indonesia).
Harapan itu disampaikan Ketua Menteri Melaka Datuk Seri Mohammad Ali Rustam pada seminar bertajuk "Menjembatani Selat Malaka" yang berlangsung di Resor Putri, Ayer Keroh, Malaka, Minggu (13/3/2011).
Dalam seminar itu, Ali Rustam mengatakan, sumber dana bagi pembiayaan pembangunan jembatan tersebut telah ada dan bukan berasal dari pendanaan pemerintah.
"Uang untuk membangun proyek jembatan Melaka ini berasal dari pihak swasta di China. Kita tak pakai uang pemerintah. Kalau kedua pemerintah bersetuju, pembangunannya lebih cepat lebih baik," katanya.
Ide pembangunan jembatan ini sebenarnya telah lama ada. Namun, perwujudannya terkendala oleh persepsi pemerintah pusat kedua negara tentang tingginya biaya pembangunan dan rendahnya jumlah para pengguna.
Ali Rustam mengatakan, dilihat dari perspektif yang lebih luas, keberadaan jembatan yang melintasi Selat Malaka dan Pulau Rupat (Riau) itu justru sangat positif bagi percepatan pembangunan dan perluasan kerja sama antara Melaka dan Riau.
"Proyek pembangunan jembatan Selat Malaka itu sangat layak karena keberadaannya tidak hanya positif dari aspek pembangunan ekonomi dan perdagangan, tetapi juga dari upaya kedua bangsa mengukuhkan hubungan antarrakyat," katanya.
Ia mengatakan, usul pembangunan jembatan tersebut telah mendapat dukungan berbagai pihak yang terlibat dalam Forum Kerja Sama Kawasan Segitiga Indonesia-Malaysia-Thailand (IMT-GT).


Membaca judulnya dengan memakai tanda tanya, penulis ingin jawab:
KENAPA TIDAK...!!!
SECEPAT MUNGKIN DIWUJUDKAN...!!!

Sudah ada Investor yang mau danain, tidak pakai dana APBN dan APBD RIAU.
Tinggal izin dari Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.
Kalau Rakyat RIAU siih pasti setuju, biar gampang Silatuhrahmi dengan keluarga disana, 
tinggal bagi-baginya yang adil, hehehe.....
Atau sekalian bareng sama Jalan Tol Pekanbaru - Dumai dikerjakan, 
rencananya Jalan Tol sepanjang 130 Km. Tahun 2011 ini sudah mulai dianggarkan dana oleh Pemda RIAU untuk pembebasan lahan untuk Jalan Tol.
Semoga cepat terwujud...


Photo-photo Jembatan didunia



Pekanbaru Old and Now...!!!

PEKANBARU

 Jembatan Leigton di Sungai Siak tahun 70-an.
Dulu masih kecil, Papaku sering bawa kesini sore-sore.Kalau ada kapal lewat di Sungai Siak jembatan ini bisa dibuka-tengahnya agar kapal bisa lewat, jembatan ini juga dikenal dengan Jembatan "Ponton".
Jadi ingat Papaku dulu tinggi besar, sekarang terbaring lemah ditempat tidur udah setahun lebih sakit,,,
Cepat sembuh Paa,,, biar bisa jalan-jalan lagi,,,



















Photo dikiri niih,
menurut keterangannya merupakan Jalan Senapelan pada tahun 1938 dan kalau tidak salah sekarang jalan A.Yani ujung pertigaan yang ke Pasar Bawah,,,
Sedangkan Photo diatas kanan adalah Bandara Simpang Tiga tahun 1968,
yang sekarang udah berganti nama menjadi  Sultan Syarif Kasim II.



Photo disebelah kanan ini adalah SMA Negeri 1 pada tahun 1950, mungkin pada saat Ortu kita SMA dulu kalii,,, atau ada Ortunya yang pernah sekolah disini coba aja kasih lihat nih photo,,, sekalian cek benar apa tidak keterangan photo ini dan jangan lupa kasih komentarnya dibawah,,, makasih.


Photo-photo diatas koleksi pribadi.


PEKANBARU

Nickname(s): Kota Bertuah (Indonesian): "The City of Good Fortune"

Pekanbaru is located in Indonesia
Pekanbaru
Location of Pekanbaru in Indonesia
Coordinates: 0°32′0″N 101°27′0″ECoordinates: 0°32′0″N 101°27′0″E
Country Indonesia
Province Riau
Area
 - Total 632.26 km2 (244.1 sq mi)
Population (2010)




















          
 - Total 903,902
 Density 1,430/km2 (3,703.7/sq mi)
Time zone WIB (UTC+7)
Postal code 28131
Area code(s) 0761
Website www.pekanbaru.go.id

Pekanbaru is the capital of Riau, a province in Indonesia on the island of Sumatra.
It has an area of 632.26 km² and a population of 903,902.
Located on the Siak River,
which drains to the Strait of Malacca. Pekanbaru has direct access to
the busy strait and was long known as a trading port (the city name is derived from
the Indonesian words of 'new market' or 'new town', "pekan" meaning 'market' or 'town',
and "baru" meaning 'new').
The city is divided into 12 subdistricts (kecamatan). The Sultan Syarif Kasim II
International Airportserves Pekanbaru with direct flights to Batam, Jakarta,
Malaysia (Malacca and Kuala Lumpur),
and other destinations in Indonesia. A settlement has existed on the city site
since the 17th century.
In the late 19th century, the city developed to serve the coffee and coal industries,
and the Dutch built roads to help ship goods to Singapore and Malacca.

Economy

After oil was discovered in the region in the 1930s, Pekanbaru's economy has
depended heavily on oil revenues which have made it the city with the highest
per capita income in Indonesia.[citation needed] Most of Indonesia's petroleum
is produced in Riau, and much of Pekanbaru's
economy is based on the petroleum industry. International oil companies,
such as Chevron from US,
as well as other Indonesian companies, have established their offices in the region.
The city is connected by road to an oil refining and exporting port at Dumai.
Many facilities,including an airport, three stadiums (building a fourth), a swimming pool,
one of the two bridges that cross the Siak River near the city, the roads in Rumbai area,
and also the road to Dumai, were partially or fully financed
by oil companies working in the area.

Because Pekanbaru is a major gateway into Indonesia from Singapore,
the city has becoming
a favorite stop before travelers go further inland in Indonesia.
The Pasar Pusat (centre market) is a food-trip destination and is considered
a household-goods trove. Pasar Bawah and Pasar Tengeh
in the port area have Chinese goods, including ceramics and carpets.

Pekanbaru is the new commercial center for the Sumatra region.
Many large companies, such as bank, insurance, restaurant, and cafe,
have opened branches in the downtown
Photo Kota Pekanbaru dari atas tampak Mesjid Agung An-nur dan jalan Diponogoro, 
depan apotik tempatku nongkrong dulu dan "BaLi" alias balap liar tiap sore. 
Sering juga dikejar-kejar,
pake motor gede dan gak pake seragam tiba-tiba aja nangkap dari belakang....
cuman sekali ketangkep itupun karena lagi nongkrong,
nginap deeh semalam dihotel "Prodeo".....


Bandara Sultan Syarif Kasim II

Bandar Udara yang mulai padat apalagi nanti tahun 2012 jadi tuan rumah
Pekan Olahraga Nasional (PON), sedikit lagi Bangunan Bandara yang baru selesai.
Dari Pekanbaru bisa langsung ke Singapore dan Kuala Lumpur juga Mallaca, Malaysia,
kurang dari sejam ke negara tetangga, kalau warga Pekanbaru sudah tidak asing lagi
liburan ke luar negeri, malah ada yang tiap minggu,,,
Anjungan Seni Idrus Tintin

Gedung ini pernah dijadiin tempat Penyelenggaraan 
Festival Film Indonesia 2009.
Idrus Tintin adalah nama seorang tokoh budayawan di Riau.




Rumah Sakit Swasta dijalan Sudirman, baru selesai dibangun.
Nemu tempat nongkrong enak malam-malam, sambil ngopi.
Orang Pekanbaru tahu tempat ngopi yang enak, buka cabang dilantai dasar Rumah Sakit ini. 
Ngopi di Rumah Sakit Cuuyy......
Parkir gak bayar lagi (gak tau nanti pake bayar).....hehehe....










Gedung Pustaka Wilayah Riau, Soeman HS





Jalan Sudirman depan kantor Walikota Pekanbaru.
Air mancur didepan kantor Walikota ini sering dijadiin tempat rekreasi pada malam hari, bisa membahayakan pengguna jalan.
Karena kurangnya fasilitas rekreasi dikota ini apalagi yang gratis,,,
Padahal Penduduknya sudah mendekati 1 juta orang, mungkin sekarang sudah lebih,,,

Keren yaa,,,
Photonyaa,,,
terimakasih yang ngambil gambar gedung ini.


Salah satu pusat kota Pekanbaru dijalan Sudirman


Mesjid Agung An-nur

  Mesjid Kebanggaan umat Muslim di Kota Pekanbaru, sering sholat jum'at disini pake AC Cuuyy,,,



Jembatan Leigton namanya dulu sekarang ganti nama Siak I karena sudah ada Siak II dan Siak III lagi dikerjakan, Jembatan Siak IV akan menyusul dibangun karena tingginya pertambahan penduduk dan Transportasi darat dikota Pekanbaru dan umumnya di Propinsi Riau.

Jembatan Siak III ( lagi dikerjakan )
Lokasi diujung Jalan Sudirman


Stadion Utama nanti untuk Pembukaan Pekan Olahraga Nasional 2012,
lagi dikerjakan dan progresnya sudah 60% untuk mengejar jadi tuan rumah PON di Riau
.


 GRAND GASING
( dinamai Grand Gasing, mirip Gasing kali... )



Info tambahan Perencanaan Pembangunan Kedepan di Propinsi Riau:
1. Jalan Tol Pekanbaru - Dumai sepanjang 130 Km
    ( Tahun 2011 mulai Pembebasan Lahan Jalan Tol ),
2. Rel Kereta, nanti bisa menyambungkan seluruh Sumatra,
3. Jembatan Selat Malaka, menghubungkan Daratan Sumatera -Dumai ke
    Malaka-Malaysia ( Dimulai Pembangunannya tahun 2013 ).

Selasa, 15 Maret 2011

Jujur (Shiddiq)

Shiddiq (jujur, benar) adalah lawan kaa dari kidzb (bohong atau dusta). Secara morfologi, akar kata shidq berasal dari kata shadaqa, yashduqu, shadqun, shidqun. Ungkapan shaddaqahu mengandung arti qabila qauluhu 'pembicarannya diterima'. Ungkapan shaddaqahu al-hadits mengandung arti anba'ahu bi al-shidq 'ia menyampaikan berita dengan benar dan jujur'. Ada orang mengatakan shadaqtu al-qauma, yang berarti qultu lahum shidqan 'aku katakan kepada mereka secara benar atau secara jujur'. Demikian juga ancaman jika aku sampaikan kepada mereka; aku katakan shadaqtu hum 'aku berkata benar kepada mereka'.

Beberapa ayat Allah yang memeberikan ilustrasi yang jelas tentang makna (shiddiq):

1. "Agar Dia menanyakan kepada orang-orang yang jujur (benar) tentang kebenaran mereka dan Dia menyediakan bagi orang-orang kafir siksa yang pedih." (al-Akhzab:8)

2. "... Dan ibunya (Maryam) adalah seorang yang sanga benar (shiddiq)..." (al-Maa'idah:75)

3. "Dan orang yang datang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa." (az-Zumar:33)

Imam al-Ghazali membagi sikap benar atau jujur (shiddiq) ke dalam enam jenis:

1. Jujur dalam lisan atau bertutur kata. Setiap orang harus dapat memelihara perkataannya. Kejujuran seperti ini hanya terjadi dalam menyampaikan berita atau pembicaraan yang mengandung berita. Menepati janji termasuk kategori kejujuran jenis ini. Bentuk jujur yang pertama ini merupakan bantuk yang paling terkenal dan fenomenal.

2. Jujur dalam berniat dan berkehendak. Kejujuran seperti ini mengacu kepada konsep ikhlas, yaitu tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain dorongan karena Allah. Jika dicampuri dengan dorongan obsesi dari dalam jiwanya, maka batallah kebenaran niatnya. Orang yang seperti ini dapat dikatakan pembohong.
Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadist Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim sebagai berikut:

"Ketika Rasulullah saw bertanya kepada seorang alim, 'Apa yang telah kamu kerjakan dari yang telah kamu ketahui?' Ia menjawab, 'Aku telah mengerjakan hal ini dan hal itu.' Lalu Allah berkata, 'Engkau telah berbohong karena kamu ingin dikatakan bahwa si Fulan orang alim."

3. Jujur dalam berobsesi atau bercita-cita (azam). Manusia terkadang mengemukakan obsesinya untuk melakukan sesuatu. Misalnya, "Jika Allah menganugerahkan banyak harta kepadaku, aku akan sedekahkan setengahnya." Janji atau obsesi ini harus diucapkan secara jujur.

4. Jujur dalam menepati obsesi. Dalam suatu kondisi, hati terkadang banyak mengumbar obsesi. Baginya mudah saat itu untuk mengumbar obsesi. Kemudian, saat kondisi realitas sudah memungkinkannya untuk menepati janji obsesinya itu, ia memungkirinya. Nafsu syahwatnya telah menghantam keinginannya untuk merealisasikan janjinya. Hal itu sungguh bertentangan dengan kejujuran (shiddiq).

5. Jujur dalam beramal atau bekerja.

6. Jujur dalam maqam-maqam beragama. Merupakan kejujuran paling tinggi. Contohnya adalah kejujuran dalam khauf (rasa takut akan siksaan Allah), raja' (mengharapkan rahmat Allah), ta'dzim (mengagungkan Allah), ridha (rela terhadap segala keputusan Allah), tawwakal (mempercayakan diri kepada Allah dalam segala totalitas urusan), dan hubb *mencintai Allah).

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar (beriman sejati)." (al-Hujaraat:15)

"Kalian harus jujur, karena jujur itu bersama-sama dengan kebaktian yang sempurna (birr). Keduanya akan berada di dalam surga. Dan hati-hatilah kalian dengan berbohong karena bohong itu bersama-sama perbuatan dosa yang terus-menerus (fujur). Keduanya akan masuk neraka. Dan mintalah kalian keyakinan dan perlindungan dari segala penyakit kepada Allah. Karena seseorang setelah diberi keyakinan akan lebih baik daripada diberi perlindungan dari segala penyakit. Dan janganlah kalian saling hasut, saling membenci, saling memutuskan (tali silaturahmi), saling memebenci, saling membelakangi, serta jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara sebagaimana Allah perintahkan kepada kalian." (HP Bukhari, Ahmad, dan Ibnu Maajah)

Solat Berjamaah

Solat berjamaah adalah solat yang dilakukan secara bersama, dipimpin oleh yang ditunjuk sebagai imamnya. Solat-solat yang bisa dikerjakan berjamaah adalah:

1. Solat Lima Waktu: Subuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib dan Isya
2. Solat Jum'at
3. Solat Tarawih
4. Solat Ied Fitri dan 'Idul Adha
5. Solat Jenazah
6. Solat Istisqa (Minta Hujan)
7. Solat Gerhana Bulan dan Matahari
8. Solat Witir

Cara Melakukan

Berniat dalam hati bahawa ia menjadi makmum atau iman. Adapun seseorang yang pada mulanya solat sendirian, kemudian ada orang lain yang mengikuti di belakangnya, baginya tidak dituntut sebagai imam.

Makmum tidak dibenarkan mendahului imam, baik tempat berdirinya maupun gerakannya selama solat berjama'ah berlangsung. Makmum diharuskan mengikuti sikap/gerak imam, tidak boleh terlambat apa lagi sampai tertinggal hingga dua rukun solat.

Apabila makmum menyalahi gerakan imam (sengaja tidak mengikutinya) maka putuslah arti jama'ah baginya; dan ia disebut mufarriq.

Antara imam dan makmum harus berada dalam satu tempat yang tidak terputus oleh sungai atau tembok mati kerana itu berjamaah melalui radio atau seumpamanya dalam jarak jauh, tidak memenuhi syarat berjamaah.

Imam hendaklah orang yang berdiri sendiri, bukan orang yang sedang makmum kepada orang lain. Selain itu, imam hendaklah seorang laki-laki. Perempuan hanya dibenarkan menjadi imam sesama perempuan dan anak-anak.

Solat berjamaah hukumnya sunnah muakkad yaitu sunnat yang sangat dianjurkan. Perbedaan nilai solat berjamaah, 27 kali lebih baik daripada solat sendirian (munfarid). Solat berjamaah paling sedikit adalah adanya seorang imam dan seorang makmum.

Bila seseorang terlambat mengikuti solat berjamaah, hendaklah ia segera melakukan takbiratul ihram, lalu berbuat mengikuti imam sebagaimana adanya. Bila imam sedang duduk, hendaklah ia duduk, bila iamam sedang sujud iapun harus sujud; demikian seterusnya. Apabila imam sudah memberi salam, hendaklah ia bangun kembali untuk menambah kekurangan raka'at yang tertinggal dan kerjakanlah hingga raka'atnya memenuhi.

Ukuran satu rakaat solat ialah ruku'. Bila seseorang mendapatkan imam ruku dan dapat mengikutinya dengan baik, maka ia mendapatkan satu rakaat bersama imam.

Rasulullah s a.w. bersabda: "Apabila seseorang di antara kamu mendatangi shalat, padahal imam sedang berada daam suatu sikap tertentu, maka hendaklah ia berbuat seperti apa yang sedang dilakukan oleh imam". (HR Turmudzi dan Ali r.a. )

Hikmah Berjamaah

Solat berjamah mengandung faedah dan manfaat yang bervariasi sesuai dengan kepentingan umat dan zaman. Melalui jamaah, silaturahmi antar umat, disiplin, dan berita-berita kebajikan dapan dikembangkan dan disebarkan luaskan.

Rasulullah s a.w. bersabda: Solat berjamaah itu lebih utama nilainya dari solat sendirian, sebanyak dua puluh tujuh derajat" (HR Bukhari dan Muslim).

Imam (Ikutan)

Imam adalah ikutan, demikian pengertiannya. Untuk menjadi seorang imam diperlukan beberapa persyaratan yang mengikat. Misalnya memiliki usia yang lebih tua atau dituakan, memiliki pengetahuan tentang Al Quran dan hadits Rasulullah s a.w., memiliki keindahan bacaan dengan ucapan yang fasih (kalau di zaman Rasulullah s a.w., peribadi-peribadi yang lebih dahulu hijrah diperhatikan untuk menjadi imam.

Kerana imam adalah ikutan, maka pemilihan pribadi amat diperhatikan. Pro dan kontra yang berlebihan atas seseorang imam kerana dosa besarnya yang menonjol, pasti akan membubarkan jamaah. Adapun dalam kesalahan umum, maka semua manusia tidak suci dari dosa. Seorang yang biasa menjadi imam, maka tidak ada salahnya untuk sewaktu-waktu ia berada di belakang imam yang lain. Walau dia sendiri mungkin lebih baik dari imam yang bersangkutan.

"Dari Abdullah bin Masud, dia berkata: Rasulullah s a.w. bersabda: "Menjadi Imam dari suatu kaum ialah mana yang lebih baik bacaan Al Qur'annya. Bila semuanya sama bagusnya, hendaklah imamkan mana yang paling alim (banyak tahu) akan sunnah Rasul. Kalau semuanya sama alim tentang sunnah Rasul, maka dahulukan mereka yang lebih dulu hijrah. Kalau mereka sama dahulu hijrah, maka iammkanlah mereka yang lebih tua usianya" (HR Imam Ahmad dan Muslim, dari Abdullah bin Mas'ud).

"Kalau mereka ada bertiga, hendaklah diimamkan seorang. Yang lebih berhak menjadi imam ialah yang lebih banyak bacan (tahu tentang bacaan Al Qur'annya)". (HR Imam Muslim, Ahmad dan Nasa'i dengan sumber Abi Said Al-Khudry).

"Tidaklah halal bagi seorang mukmin yang imam kepada Allah s.w.t. dan hari akhir yang mengimami sesuatu kaum kecuali atas izin kaum itu. Dan janganlah ia mengkhususkan satu do'a untuk dirinya sendiri dengan meninggalkan mereka. Kalau ia berbuat demikian, berkhianatlah ia kepada mereka". (HR Abu Daud dari Abu Hurairah)

Keadaan Shaf

Solat salah satu ibadah yang menghubungkan peribadi kepada Allah s.w.t., dan juga mengatur hubungan sesama manusia. Solat yang baik mendatangkan tamsil yang indah dan berguna.

Shaf yang baik akan menghemat tempat, merapikan barisan dan kesatuan jamaah serta mendatangkan nilai tambah bagi ibadah itu sendiri, bahkan menjadi cermin disiplin kehidupan dan pergaulan.

Rasulullah s a.w. bersabda: "Aturlah shaf-shaf kamu dan dapatkanlah jarak antaranya, ratakanlah dengan tengkuk-tengkuk". (HR Imam Abu Dawud dan An Nasa'i disahihkan Ibnu Hibban dari Anan).

Sering orang mengira bahawa shaf yang baik adalah shaf yang dilakukan secara santai-lapang. Tidaklah demikian sebenarnya.

Untuk Shaf yang Baru

Bila shaf terisi penuh, maka mulailah dengan shaf yang baru dari arah sebelah kanan. Bila yang terbelakang hanya seorang diri, maka usahakanlah ia dapat masuk shaf yang sudah ada; atau tariklah seorang anggota shaf yang ada untuk menemaninya (yang ditarik pasti mahu, andaikan ia mengerti tata tertibnya).

Shaf Kaum Wanita

Shaf kaum wanita sebaiknya terletak di belakang shaf kaum lelaki, sementara shaf anak-anak berada di tengah; demikian bila dimungkinkan. Bila tidak, shaf makmum lelaki dan wanita bisa diatur secara sejajar; atau mungkin tercampur sama sekali, bagaikan jamaah musim haji di masjidil Haram, Makkah. Shaf yang bercampur baur sebenarnya kurang baik, bahkan mudah mengandung fitnah; sementara solat itu sendiri mencegah kekejian dan kemungkaran, yang akan mendatangkan fitnah, apalagi jika melakukan solat.

Rasulullah s a.w. bersabda: "Sebaik-bauknya shaf kaum lelaki itu di depan, dan seburuk-buruknya ialah di bagian belakangnya, dan sebaik-baiknya shaf kaum wanita itu ialah pada bagian akhirnya dan sejelek-jeleknya ialah di bagian depannya". (HR Imam Muslim dari Abu Hurairah).

Pengganti Imam

Bila solat berjamaah, sebaiknya orang yang di belakang imam adalah mereka yang merasa dirinya siap sebagai pengganti, bila tiba-tiba imam mendapat halangan, umpamanya batal, jatuh sakit, lupa ingatan, terlupa rukun dan sebagainya. Apabila seseorang solat di sebuah masjid di luar asuhan atau daerahnya sendiri, maka dia tidak boleh langsung bertindak menjadi imam, kecuali bila diminta. Mungkin saja disana sudah ada jadwal imam tetap. Begitu pula bila ia bertamu, kerana yang paling hak menjadi imam adalah tuan rumah sendiri, kecuali bila ia diminta.

Imam Yang Arif

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahawa Rasulullah s a.w. bersabda: "Manakala seseorang di antara kamu solat bersama-sama orang banyak, maka hendaklah ia meringankan (memendekkan) bacaan surat atau ayat-ayatnya. Mungkin ada diantara jamaah yang tidak tahan lama berdiri, ada yang sakit, atau ada yang sudah tua. Dan manakala seseorang dari kamu itu solat sendirian, maka silakan ia memanjangkan bacaan sekehendaknya". (HR Bukhari dan Muslim).

Khutbah dipendekkan dan solat diperpanjang, demikian petunjuk Rasulullah s a.w. Di pejabat, pekerja dibatasi oleh waktu, maka khutbah yang pendek sangat tepat dan bermanfaat. Khutbah yang seakan-akan cerita bersambung, membosankan, akhirnya jama'ah berbual dan mengantuk.

Ringkasan

* Kalau solat di rumah, maka tuan rumah lebih berhak menjadi imam, kecuali tuan rumah mempersilakannya.
* Orang yang bagus bacaan Al-Qurannya lebih diutamakan untuk menjadi imam.
* Bila solat telah berlangsung, mereka yang datang belakangan terus saja mengikuti imam yang sudah ada.
* Imam sedapatnya orang yang lebih disukai makmum, kerana iman itu dipilih untuk diikuti.
* Imam sahabat rawatib, sebaiknya oleh imam yang biasa ditetapkan, kecuali ada kesepakatan menunjuk orang lain sebagai imam.
* Imam yang fasih lebih utama, sebagai halnya seorang yang dituakan, baginya amat layak menjadi imam dalam solat.
* Imam itu bertanggung jawab atas makmumnya, kerana itu seorang imam harus tahu benar dengan kedudukannya.
* Orang makmum yang tepat berada di belakang imam, hendaklah seorang yang amat tahu dalam masalah ibadah yang sedang dilakukan. Mereka harus bertindak tepat pada saat imam batal, salah, lupa dan sebagainya. Bila perlu ia berhak menggatikan imam, sekalipun imam berkebaratan atau tidak tahu tentang kesalahannya.
* Seorang di belakang imam berlaku sebagai barometer, berhak meluruskan baris atau shaf di kanan dan kirinya.
* Apabila selesai solat, imam segera duduk mengarah ke jamaah. Sebaiknya imam berdzikir secara pelan dan kusyu, dan jamaahpun berdzikir atau berdoa sesuai kata hatinya; demikian yang terbaik.
* Bila imam berdoa, diaminkan atau tidak diaminkan, doa imam sudah membawa kepentingan jamaahnya.

Berwudhu

Cara atau jalan untuk membina mental dan rohani sungguh banyak sekali. Jalan yang pasti ialah mendekatkan diri kepada Allah SWT dan mengekalkannya yang disebut sebagai ibadah. Salah satu mata rantai ibadah itu adalah Wudhu'.

Kegunaan Air Wudhu

* Untuk segala macam solat hukumnya wajib.
* Untuk Thawaf di Ka'bah, thawaf apa saja, hukumnya wajib.
* Sewaktu hendak membaca Al-Qur'an hukumnya sunnat
* Sewaktu hendak tidur atau lain-lain perbuatan yang baik, hukumnya sunnat

Alat Yang Dipakai

Alat yang dipakai ialah air. Meskipun demikian, air yang digunakan untuk berwudhu' adalah air yang suci lagi menyucikan (pengertiannya?), iaitu: Air hujan, Air Sumur, Air Sungai, Air Laut, Air dari mata Air, Air Telaga, Air Danau, Air Ais, Air Ledeng.

Cara-caranya

Berniat dalam hati bahawa berwudhu' untuk..., lalu:

* Membasuh muka dengan air (cukup sekali asalkan merata ke seluruh muka)
* Basuhlan tangan hingga sampai dengan kedua siku (cukup sekali asal merata).
* Sapulah sebahagian kepala, cukup sekali saja
* Basuhlan kaki hingga sampai dengan kedua mata kaki (cukup sekali asal merata).

Bila dikerjakan seperti di atas, maka wudhu' sudah sah.

Berwudhu' yang lebih sempurna

Bila ingin berwudhu' lebih sempurna, yakni sempurna lahiriah dan sempurna pula dalam ganjaran, maka kerjakanlah tabahan-tambahannya dengan cara sebagai berikut:

1. Mulailah dengan mengucapkan Bismillaahir rahmaanir rahiim...

2. Menghadaplah kearah kiblat

3. Usahakanlah berwudhu' dengan tidak meminta bantuan orang lain, seperti menimba, dan sebagainya.

4. Basuhlah jari-jari tangan dengan menyelat-nyelatinya. Dan bagi jari yang bercincin, jam atau perhiasan yang dipakai di jari-jari lainnya, bukalah perhiasan tersebut agar air dapat merata membasahi seluruh jari-jari.

5. Berkumur-kumur.

6. Masukkanlah air ke dalam hidung, lalu keluarkanlah kembali (istinsyaq).

7. Gosoklah gigi untuk menghilangkan sisa makanan dan bau mulut yang kurang sedap.

8. Mulailah dengan anggota wudhu'yang sebelah kanan.

9. Ulangilah masing-masing sampai tiga kali (3X).

10. Ratakanlah air hingga membasahi seluruh anggota wudhu'

11. Ketika menyapu kepala, ratakan seluruhnya (letakkan ibu jari samping kiri dan kanan kepala, lalu putarlah telapak tangan dari depan ke belakang, kemudian kembali ke depan (cukup sekali).

12. Basuhlah telinga dengan memasukkan telunjuk ke lubang telinga, ibu jari dibelakang telinga.

13. Bila selesai berwudhu', hadapkan muka ke arah kiblat dan berdoalah dengan membaca:

Asyhadu an laa ilaaha illalaahu wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa Rasuuluh, Allahummaj'alnii minat tawwaa biinaa waj'alnii minal mutathahhiriin.

Aku bersaksi bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa sesungguhnya Muhammad itu adalah hamba-Nya dan rasul-Nya. Ya allah , masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang bertaubat, dan jadikanlah aku masuk ke dalam golongan orang-orang yang suci.

14. Lakukanlah solat sunnat wudhu' dua raka'at.

Hal-hal yang Membatalkan Wudhu'

1. Keluar sesuatu dari "dua pintu" belakang seperti buang angin (kentut), buang air besar atau kecil, haid atau nifas, dan sebaganya.

2. Hilang akal (kerana sakit, mabuk, gila dan sebagainya) .

3. Bersetubuh.

Perayaan Hari Idul Fitri

Sesungguhnya Idul Fitri telah menjadi hari kegembiraan, saling bertemu, berkunjung, dan mengucap selamat.

Adapun beberapa adab yang telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dalam menghadapi hari khusus ini adalah:

1. Hendaklah menghadapi Idul Fitri dengan niat yang baik. Tidak berlebih-lebihan dan tidak pula terlalu cuek sehingga tidak menunjukkan kegembiraan.

2. Mandi. Kegembiraan tidak akan lengkap bila tubuh kotor. Maka disunnahkan untuk mandi terlebih dahulu sebelum pergi shalat Ied.

3. Bersih secara sempurna dan wangi. Bagi pria, pakailah wewangian. Sedang kaum wanita, tidak dibolehkan memakai wangi-wangian. Tujuannya adalah agar muslim dan muslimah dalam kondisi yang baik dan wangi dalam menghadapi hari yang penuh kegembiraan.

4. Mengenakan pakaian yang baru, jika mampu. Yaitu, pakaian yang belum pernah dikenakan sebelumnya. Hal ini merupakan bentuk kesyukuran terhadap nikmat dari Allah SWT.

Umar bin Khattab (ra) pernah membeli baju sutra untuk Rasulullah agar dipakai pada hari Ied. Rasulullah menolak memakainya karena baju tersebut berbahan sutra namun Rasulullah (saw) menyetujui perbuatan Ummar tersebut yang berhias pada hari Ied.

Bila tidak mempunyai pakaian yang baru, gunakanlah pakaian yang paling bagus. Buatlah persiapan untuk merayakan hari istimewa ini.

5. Mengeluarkan zakat fitrah sebelum berangkat shalat Ied. Boleh membayarnya dua hari sebelum 1 Syawal. Tujuannya untuk berbagi kegembiraan di hari raya bagi orang-orang yang kurang mampu. Bila imam mengumandangkan takbir untuk shalat Ied, maka sudah tidak bisa lagi membayar zakat (kecuali karena alasan udzur), yang ada hanyalah sedekah.

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
"Bahwa Rasulullah saw. memerintahkan agar zakat fitrah diberikan sebelum manusia berangkat untuk salat Ied."

6. Rasulallah memakan beberapa butri korma sebelum shalat Ied. Intinya, makanlah sebelum Shalat Ied.

Dari Anas Radliallahu anhu, ia berkata :
"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pergi (ke tanah lapang) pada hari Idul Fitri hingga beliau makan beberapa butir kurma".[1]

7. Pada Idul Adha, tidak makan sebelum berangkat shalat. Sunnahnya seperti itu, kalau tak mampu, bolehlah makan. Sunnahnya, setelah Shalat Idul Adha, makanlah makanan dari daging hewan kurban yang disembelih.

Dari Buraidah Radliallahu anhu ia berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak keluar pada hari Idul Fitri hingga beliau makan, sedangkan pada hari Raya Kurban beliau tidak makan hingga kembali (dari mushalla) lalu beliau makan dari sembelihannya" [Diriwayatkan Tirmidzi 542, Ibnu Majah 1756, Ad-Darimi 1/375 dan Ahmad 5/352 dan isnadnya hasan]

8. Bersegera berangkat ke tempa Shalat Ied.

9. Membawa serta para wanita menuju tempat shalat. Termasuk yang sedang haid, tua-muda, janda, dan lainnya. Bila sedang haid, tidaklah boleh shalat. Tujuannya agar semua para wanita bersama-sama merasakan dan merayakan kegembiraan.

10. Hendaklah membawa anak-anak ke tempat shalat. Agar mereka juga merasakan kegembiraannya perayaan Ied walau mereka belum wajib shalat.

11. Rasulullah keluar ke tempat shalat dengan berjalan kaki. Beliau tidak menggunakan hewan kendaraannya. Bagi yang letak rumahnya jauh dari lokasi shalat, boleh menggunakan kendaraan.

At-Tirmidzi meriwayatkan (530) dan Ibnu Majah (161) dari Ali Radliallahu 'anhu bahwa ia berkata : "Termasuk sunnah untuk keluar menunaikan shalat Id dengan jalan kaki". [Dihasankan oleh Syaikh kami Al-Albani dalam "Shahih Sunan Tirmidzi"].

12. Bertahlil dan bertakbir dengan suara yang keras sewaktu berangkat ke tempat shalat. Hal ini untuk menunjukkan kegembiraan dan kemeriahan lebaran dengan Kebesaran Allah.

Telah pasti riwayat bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam :
"Artinya : Beliau keluar pada hari Idul fitri, maka beliau bertakbir hingga tiba di mushalla (tanah lapang), dan hingga ditunaikannya shalat. Apabila beliau telah menunaikan shalat, beliau menghentikan takbir".[Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dalam "Al-Mushannaf" dan Al-Muhamili dalam "Kitab Shalatul 'Iedain" dengan isnad yang shahih akan tetapi hadits ini mursal. Namun memiliki pendukung yang menguatkannya. Lihat Kitab "Silsilah Al Hadits As-Shahihah" (170). Takbir pada Idul Fithri dimulai pada waktu keluar menunaikan shalat Ied]

Seperti Ibnu Mas'ud, ia mengucapkan takbir dengan lafadh :

Allahu Akbar Allahu Akbar Laa ilaha illallaha, wa Allahu Akbar, Allahu Akbar wa lillahil hamdu.

"Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar, Tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah, Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan untuk Allah segala pujian". [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/168 dengan isnad yang shahih]

Sedangkan Ibnu Abbas bertakbir dengan lafadh.

Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, wa lillahil hamdu, Allahu Akbar, wa Ajalla Allahu Akbar 'alaa maa hadanaa.

"Artinya : Allah Maha Besar Allah Maha Besar Allah Maha Besar dan bagi Allah lah segala pujian, Allah Maha Besar dan Maha Mulia, Allah Maha Besar atas petunjuk yang diberikannya pada kita". [Diriwayatkan oleh Al Baihaqi 3/315 dan sanadnya shahih]

13. Tidak mengerjakan shalat apapun sebelum Shalat Ied. Kecuali bila shalatnya di dalam masjid, maka mengerjakan Shalat Tahiyyatul Masjid. Setelah Shalat Ied dan sampai di rumah, Rasulullah lalu mengerjakan shalat 2 raka'at.

14. Tidak ada adzan dan iqomah selama Shalat Ied.

Hadis riwayat Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah Al-Anshari ra.:
"Dari Ibnu Juraij, ia berkata: Atha telah mengabarkanku dari Ibnu Abbas dan dari Jabir bin Abdullah Al-Anshari, keduanya berkata: Tidak ada azan bagi salat hari raya idul fitri atau idul adha. Kemudian aku bertanya kepadanya tentang itu, lalu Jabir bin Abdullah Al-Anshari memberitahukan kepadaku bahwa tidak ada azan untuk salat hari raya idul fitri, baik saat imam menaiki mimbar maupun sesudahnya. Juga tidak ada iqamat, seruan atau apapun. Pada saat itu tidak ada azan atau iqamat."

15. Rasulullah mendahulukan shalat sebelum menyampaikan khutbah lebaran.

Ibnu Abbas berkata :
"Artinya : Aku menghadiri shalat Ied bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu 'anhum. Semua mereka melakukan shalat sebelum khutbah" [Riwayat Bukhari 963, Muslim 884 dan Ahmad 1/331 dan 346]

Hadis riwayat Ibnu Umar ra.:
"Bahwa Nabi saw., Abu Bakar dan Umar, mereka melakukan salat Ied (idul fitri dan idul adha) sebelum khutbah."

16. Rasulullah sebagai imam menghadap manusia ketika berkhutbah.

Abi Said Al-Khudri Radhiyallahu 'anhu berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam biasa keluar menuju mushalla pada hari Idul Fithri dan Adha. Maka yang pertama kali beliau lakukan adalah shalat. Kemudian beliau berpaling menghadap manusia sedangkan mereka dalam keadaan duduk di shaf-shaf mereka. Beliau lalu memberi pelajaran, wasiat dan perintah" [Dikeluarkan oleh Bukhari 956, Muslim 889, An-Nasa'i 3/187, Al-Baihaqi 3/280 dan Ahmad 3/36 dan 54]

17. Tidak mengeluarkan mimbar untuk Shalat Ied.

Hadis riwayat Abu Said Al-Khudri ra.:
"Bahwa Rasulullah saw. selalu keluar pada hari raya raya idul adha dan hari raya idul fitri. Beliau memulai dengan salat. Setelah menyelesaikan salat dan mengucapkan salam, beliau berdiri menghadap kaum muslimin yang duduk di tempat salat mereka masing-masing. Jika beliau mempunyai keperluan yang perlu disampaikan, beliau akan tuturkan hal itu kepada kaum muslimin. Atau ada keperluan lain, maka beliau memerintahkannya kepada kaum muslimin. Beliau pernah bersabda (dalam salah satu khutbahnya di hari raya): Bersedekahlah kalian! bersedekahlah! Bersedekahlah! Dan ternyata mayoritas yang memberikan sedekah adalah kaum wanita. Setelah itu beliau berlalu."

18. Rasulullah mengkhususkan satu khutbah lebaran untuk kaum wanita, terpisah dari khutbah untuk para pria.

Hadis riwayat Jabir bin Abdullah ra.:
"Bahwa Nabi saw. pernah melaksanakan salat hari Raya Fitri. Beliau memulai dengan salat terlebih dahulu. Sesudah itu beliau berkhutbah kepada kaum muslimin. Selesai khutbah Nabi saw. turun dan mendatangi kaum wanita. Beliau memberikan peringatan kepada mereka sambil berpegangan pada tangan Bilal. Lalu Bilal membentangkan pakaiannya dan para wanita memberikan sedekah."

Hadis riwayat Ibnu Abbas ra., ia berkata:
"Aku pernah ikut salat Idul Fitri bersama Nabi saw., Abu Bakar, Umar dan Usman. Mereka semua melakukan salat Ied sebelum khutbah, kemudian ia berkhutbah, ia berkata: Rasulullah saw. turun, seola-olah aku melihat beliau ketika beliau dengan isyarat tangan mempersilakan kaum lelaki duduk. Kemudian beliau berjalan di antara barisan sampai ke tempat para wanita. Beliau disertai Bilal. Lalu beliau membaca: Hai Nabi, apabila para wanita yang beriman mendatangimu untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan Allah. Beliau membaca ayat ini hingga akhir. Lalu beliau bertanya: Apakah kalian akan berjanji setia? Seorang wanita satu-satunya di antara mereka menjawab tegas: Ya, wahai Nabi Allah! Saat itu tidak diketahui siapa wanita tersebut. Kemudian Rasulullah saw. bersabda: Bersedekahlah kalian! Bilal membentangkan pakaiannya seraya berkata: Marilah, demi bapak ibuku sebagai tebusan kalian! Mereka pun segera melemparkan gelang dan cincin ke dalam pakaian Bilal."

19. Saling berjabat tangan bagi mereka yang bertemu (tidak bagi wanita dan pria) dan mengucap selamat.

20. Memilih jalan lain ketika pulang, baik berjalan kaki maupun berkendaraan.

Dari Jabir bin Abdillah Radliallahu 'anhu, ia berkata :
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari raya biasa mengambil jalan yang berlainan (ketika pergi dan ketika kembali dari mushalla-pen)" [Hadits Riwayat Bukhari 986].

21. Menjalin tali silaturrahim, saling memberi hadiah, saling mengucap selamat (Taqqabbalallahu minna wa minkum bukan meminta maaf). Semua ini dilakukan di hari Ied saja, 1 Syawal.

22. Boleh menabuh rebana bagi kaum wanita diantara sesama wanita untuk menunjukkan kegembiraan.

23. Meninggalkan sesuatu yang melampaui batas pada hari itu.

Wallahu'alam.

I Am Who I Am